Sabtu, 12 Februari 2011

Tetirah di Kebun Durian "Warso" Cihideung - Bogor

Menyaksikan tayangan berbagai media massa dalam seminggu ini sungguh membuat ‘nelongso’ di bathin ini, bagaimana tidak? Sangat verbal tindakan sekelompok orang seperti ‘memburu’ kelompok lain karena perbedaan keyakinan. Ditambah lagi dengan perilaku simbolis dari beberapa tokoh yang membenarkan tindakan itu. Apa hak seseorang atau kelompok orang untuk memaksakan kehendaknya kepada orang lain, sementara orang lain yang jadi objek sasaran –sama sekali- tidak melakukan perbuatan melanggar aturan negara? Itukah budaya kita sebenarnya? Aku yakin tidak! Dari dahulu kita hidup dalam ‘satu rasa’, tidak mempersoalkan perbedaan, yang utama adalah tujuan bersama dapat tercapai dengan damai tanpa ‘woro-woro’. Miris perasaan ini.  Tindak tegas pelaku pelanggaran tanpa padang bulu.
Week end ini akan aku gunakan untuk sekedar ‘tetirah’ melepaskan kegalauan yang menyelimuti perasaan ini. Ya, aku dan istri sepakat untuk mengunjungi kebun durian ‘Warso’ di Cihideung Bogor, yang tidak jauh jauh amat dari rumahku. Kami akan pergi kesana hanya menggunakan motor kymco 100cc kesayanganku. Maksudnya karena kepraktisan saja.
Jam 9 pagi start dari rumah, melalui statsiun kereta jadul ‘Batutulis’ yang menghubungkan Bogor-Sukabumi. Jalur kereta ini baru tahun 2010 dibuka lagi, itupun hanya pagi dari Sukabumi ke Bogor dan sorenya dari Bogor ke sukabumi. Jalur ini sudah bertahun tahun di’idle’kan padahal jalur jalan raya Bogor Sukabumi sudah sangat macetnya. Jalur kereta ini adalah peninggalan jaman Belanda (iya mana ada sich, jalur kereta api baru?). Kawasan Batutulis sekarang sudah berkembang cepat dengan hadirnya komplek komplek perumahan baru. Maklum kawasan ini adalah ‘mulut’ masuk Kota Bogor dan jangan lupa kawasan ini masih sangat kental suasana alam pegunungannya. Ini berada di kaki Gunung Salak. Hulu Sungai Cisadane yang akan mengalir ke Tanggerang sana sebelum ke laut adalah dari sekitaran sini juga. Kondisinya memang dari hulunya sudah mengenaskan.
Masuk Desa Cihideung, kami mampir dulu ke warung laksa ‘Pak Inin’. Laksa disini banyak dikunjungi pembelinya yang tidak saja dari Bogor namun ada yang datang dari Jakarta juga. Walaupun di desa dan sederhana, rasa laksa P Inin ini tidak kalah rasa dengan di restoran besar. Menurut keterangan Bu Inin: dalam sehari habis dua pikul atau setara 400 piring. Itupun jam bukanya hanya dari jam 9 pagi sampe jam 12 saja. Harga satu porsi laksa P Inin ini = 5000 rupiah. Ketika aku sampaikan kenapa tidak nambah jumlah porsi laksa yang dijual dalam seharinya? Jawabnya sederahana: hasil sekarang saja sudah lebih dari cukup. Suatu rasa syukur yang hakiki, pikirku. Betul juga sebenarya orang kita terutama yang berada di desa dan berekonomi pas pasan, justru tidak memiliki perilaku ‘kemaruk’.
Tiga kilo meteran dari warung laksa ini dengan jalan yang terus menanjak, kami sampai ke Kebun Durian “Warso Farm” yang berada di kampung Cihideung Desa Cipelang Kecamatan Cijeruk Kabupaten Bogor. Wah dari jauh kami sudah melihat pucuk pucuk pohon durian. Berada di kebun durian ini seperti ada perasaan lain yang mengalir dalam darahku. Aku menemukan tempat baik untuk ‘merenung’, apalagi disana sini banyak air mengalir melimpah jernih yang menimbulkan suara gemericik yang menimbulkan romantika tersendiri.
“Warso farm’ seluas 23 hektar dibangun oleh Pak Warso yang kini sudah berumur 85 tahun, seorang pensiunan tentara berpangkat kolonel. Dimana selepas dinas dari tentara, beliau lebih banyak berkutat dalam distribusi BBM dengan memiliki armada distribusinya. Kemudian pada tahun 1990 membangun ‘kebun’ ini. ‘Warso Farm’ mempekerjakan 50 orang tenaga. Seorang tukang kebunnya dibayar mingguan sebesar 150 ribu.
Mengitari kebun durian ‘Warso’ ditemani Pak Ubang, seorang lelaki pekebun yang telah bekerja 20 tahun, sungguh sangat menyenangkan. Pak Ubang walaupun tidak belajar ilmu komunikasi tetapi dalam soal menerangkan ‘tektek bengek’ perihal durian, beliau akan gamblang menceritakannya. Kami suka dengan dia.
Kebun ‘Warso’ seluas 23 hektar dengan 1500 pohon durian dari 12 jenis, baik jenis lokal maupun impor. Jenis jenis durian yang ada adalah: montong, petru, sunan, matahari, kanyo, mas, sikabul, daun lebar dan lainnya. Kalau pohon durian lokal mulai berbuah kira kira pada umur 8 tahun sedangkan jenis impor seperi matahari, kanyo pada umur 4 tahunpun sudah mulai berbuah. Pohon durian dapat bertahan sampai umur 30 tahun. Durian yang akan dipasarkan di ‘Warso’ ini adalah durian yang jatuh dari tangkainya. Bukan dipetik. Karena yang jatuh dengan sendirinya, itu menandakan bahwa buahnya sudah matang alami. Untuk durian jenis lokal, sejak jatuh harus ditahan dulu sampai besoknya. Besoknya baru bisa dinikmati. Bahkan untuk durian impor perlu menunggu 4 hari sampai dapat enak dimakan.
Harga durian terhebat adalah 50 ribu / kg untuk durian jenis kanyo sedangkan untuk harga duria lokal hanya 35 ribu per kg saja. Tapi jangan salah loh, durian lokal beraroma lain: lebih legit dan harumnya tahan lama. Mantap toch.
Kami habiskan waktu disini berjam jam sampai sore tiba. Itu kami lakukan karena seperti apa yang disampaikan semula. Kami ingin sekedar mengusir ‘bad mood’. Dan itu berhasil! Apalagi tidak banyak menguras kantong. Alhamdulillah.
Penulis: didi sadili
keluar dari Kota Bogor disambut statsiun 'jadul'
'hulu Sungai Cisadane Yang Perlu Ditata

mampir di warung laksa Pak Inin

Pak Inin menjual 2 pikul atau 400 piring laksa / hari

sedapnya

5000 per porsi

dengan Kymco laju terus ke Warso Farm

sambutan welcome

Pa Ubang menemani kami

ada 12 jenis durian di 23 hektar kebun ini

durian petruknya yang mana ya?

ada 1500 pohon durian dan umur 8 tahun mulai berbuah

terima kasih ya pak.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar