Senin, 26 Desember 2011

Naik Ferry Penyeberangan Batam-Tanjung Pinang yang Menyenangkan

Sudah selayaknyalah transportasi di wilayah kepulauan seperti di Provinsi Kepulauan Riau lebih memanfaatkan moda angkutan laut. Dan itu cukup membantu masyarakat untuk aktifitas mobilitasnya dengan harga yang dibayarkan relatif murah jika dibandingkan dengan ongkos moda angkutan darat apalagi moda angkutan udara. Contohnya kami yang memiliki kepentingan pertemuan di Kota Tanjung Pinang yang berada di Pulau Bintan. Sedangkan kami datang dari Jakarta melalui penerbangan menuju Batam. Penerbangan Jakarta-Tanjung Pinang sangat terbatas sekali, karena bandara di Tanjung Pinang belum bisa disambangi oleh pesawat berbadan lebar.Maka kami harus menyeberang  ke Tanjung Pinang dengan ferry, karena tidak ada jenis angkutan lainnya. Ketika kami tiba di Pelabuhan penyeberangan Telaga Punggur di Kota Batam kami sudah ditawari oleh berbagai agen ferry yang akan menyeberang ke Pulau Bintan atau ke Kota Tanjung Pinang bahkan ke Singapura segala. Suasana di pelabuhan penyeberangan Telaga Punggur di Kota Batam ini seperti suasana di terminal bus antar kota di kota-kota besar di Jawa. Yang menarik dari apa yang ditawarkan oleh para agen ini adalah hanya tentang waktu keberangkatan ferry yang sesaat lagi atau ferry yang cepat sampai di tujuan. Kami pilih ferry yang paling cepat sampainya di Tanjung Pinang walaupun harus nunggu 30 menit lagi. Ferry yang lebih kecil yang akan berangkat 5 menit lagi, waktu tempuhnya 1 jam 30 menit. Sedangkan ferry yang kami pilih hanya butuh waktu 1 jam saja, disamping itu ferry kami, bodynya lebih besar.
Ongkos ferry penyeberangan Batam-Tanjung Pinang sebesar Rp 44 rb, dimana Rp 40 rb-nya adalah ongkos murni ferrynya, Rp 2 rb untuk asuransi jiwa dan Rp 2 rb lagi untuk seaport tax.
Ferry yang akan kami tumpangi adalah dari agen yang paling terkenal dan berukuran 30 m x 5,2 m dengan jumlah tempat duduk 191 kursi. Kami pilih duduk di ruang dek dimana dalam ferry itu ada ruang VIP dan dek walaupun ongkos keduanya tidak berbeda. Di ruang dek, kami dapat menikmati perjalanan ferry ini. Sebelum ferry berangkat, suasananya seperti di terminal bus, dimana para pedagang asongan yang menawarkan rokok, minuman, atau mainan silih berganti naik turun untuk menjajakan dagangannya. Barangkali dalam hal ini perlu ada penertiban, karena bagaimanapun hal itu akan mengganggu kenyamanan penumpang. Rokok, minuman, makanan, dan barang lainnya toch sudah disediakan di kios-kios di dermaga atau di ruang tunggu sebelum naik ke dalam ferry.
Tepat pk 2 siang, ferry yang diisi oleh ¾ penumpang dari full kapasitas-nya, berjalan menuju Tanjung Pinang menembus hujan di bulan Desember yang dikenal terkadang terjadi ombak dan badai di perjalanan tetapi karena ukuran ferry ini cukup besar, sehingga ombak laut dalam batas tertentu dapat diterjangnya dengan mudah. Itulah salah satu pertimbangan kami kenapa kami memilih ferry yang berukuran relatif besar ini. Selepas dermaga Telaga Punggur, kami dan juga penumpang lainnya langsung tertidur mungkin keasyikan diayun oleh ombak. Padahal televisi besar di depan kami sedang seru-serunya menayangkan film ‘warkop’ yang lucu.
Pukul 3 sore atau satu jam perjalanan kami sudah tiba di dermaga Sri Bintan Pura di Kota Tanjung Pinang. Atau tepat 1 jam waktu yang diperlukan untuk perjalanan Batam-Bintan dan sesuai dengan apa yang dijanjikan agen pada waktu kami mau membeli tiket. Kalau begitu ferry ini benar-benar berangkat dan datang sesuai jadwal. Perlu mendapat apresiasi.  Dan kami benar-benar nyaman menggunakan jasa angkutan jenis ferry ini. Saya jadi teringat akan ceramahnya Prof Dorodjatun Kuntjoro-Jakti yang mantan Menko Perekonomian di era Presiden Megawati, kira-kira setahun lalu dalam acara peringatan Hari Nusantara di kantor kami. Beliau menyatakan bahwa di negeri kepulauan seperti Indonesia, moda angkutan yang paling layak dikembangkan adalah angkutan laut atau menggunakan kapal. Karena dari hasil perhitungan bahwa jasa angkutan laut adalah yang paling efisien dibanding jenis angkutan lainnya. Efisien disini artinya ukuran besarnya biaya baik rupiah, waktu, energi, emisi, infrastruktur, dan lainnya yang dikeluarkan untuk menggerakkan penumpang maupun barang dari satu tempat ke tempat lainnya oleh salah satu moda angkutan relatif lebih kecil dibandingkan moda angkutan lainnya.
Saya sangat setuju dengan pendapat itu dan kiranya pengembangan transportasi antar kota antar pulau di Indonesia yang dikenal memiliki belasan ribu pulau adalah dengan jenis transportasi laut. Tidak jenis lainnya yang nyata-nyata membutuhkan banyak biaya terutama untuk pembangunan infrastruktur pendukungnya.
Membeli Tiket Ferry Batam-Tanjung Pinang =Rp 40rb di Telaga Punggur Batam
Penumpang Naik Ferry
Penumpang Nyaman di Dalam Ferry
Selama Perjalanan Disuguhi Video Film Warkop Tapi Penumpang Umumnya Tidur
Satu Jam Perjalanan, Kami Tiba di Pelabuhan Sri Bintan Pura di Tanjung Pinang

6 komentar:

  1. wah..enak ya..
    kalo sekarang berapa ya ongkosnya?
    mau juga saya kesana.
    tksh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tiket Batam - Tanjung Pinang atau sebaliknya hanya Rp 40 rb. perjalanan ditempuh 1 jam. Ferry mulai beroperasi jam 7 pagi dan berahir jam 5 sore, baik dari batam maupun dari tanjung pinang

      Hapus
    2. gan kalau bawa gadget misal hp naek ferry dari batam ke Tg.Pinang apa kena cukai apa gmn?? thanx for the info

      Hapus
    3. Aturan kepabeanan, apabila membawa barang (baru) dengan jenis yang sama sebanyak lebih dari 3 pc dikenakan cukai. Terutama untuk barang elektronik spt HP, Camera, dll

      Hapus
  2. assalam... mohon info angkutan dari bandara batam ke pelabuhan ferry menuju tanjung pinang... terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. waalaikumsalam bogan kayong: kota batam yang menempati satu pulau kecil walaupun secara ekonomi sudah relatif lebih maju dari kota kota lainnya di Indonesia namun sistem transportasi umum (public transportation) nya belum tertata dengan baik. Untuk pergi ke dermaga penyeberangan menuju tanjung pinang yaitu di daerah punggur, rasanya tidak praktis kalau menggunakan transportasi umum semacam bus-bus kecil karena harus berganti beberapa kali kendaraan yang ditumpangi. yang paling praktis, naik taksi bandara yang resmi yang berada di dekat pintu keluar/kedatangan penumpang dengan tarif resmi pula. tarifnya sekitar Rp 150rb. selamat menikmati perjalanan dan semoga menyenangkan mas..

      Hapus