Kamis, 08 Maret 2012

Dimensi Spasial Dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil


Gambar: Pola Pikir Pembangunan
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Aktifitas manusia sebagai mahluk yang memanfaatkan sumberdaya alam memiliki kecenderungan-kecenderungan yang berpola dan terstruktur secara spasial. Sebagai hasil naluri alamiah dan hasil pengalaman "belajar" yang panjang, terdapat pola-pola spasial yang khas di dalam mengatur tata letak tempat  tinggal, pekarangan, ladang, sawah dan sebagainya. Keteraturan konfigurasi spasial aktifitas-aktifitas sosial-ekonomi masyarakat selalu ditemukan di setiap kehidupan  masyarakat didalam mempertahankan hidupnya, menyesuaikan dengan lingkungannya, mengoptimalkan upaya-upaya pemanfaatan sumberdaya alam, mengoptimalkan interaksi sosial, maupun sebagai bentuk-bentuk ekspresi budaya. Berbagai bentuk interaksi, baik antara sesama manusia maupun antara manusia dengan sumberdaya-sumberdaya yang dikelolanya atau juga keterkaitan antar sumberdaya-sumberdaya itu sendiri menuntut manusia untuk menyediakan berbagai prasarana dan sarana untuk mempermudah mengakses dan mengelola sumberdaya.

Urgensi atas perencanaan spasial dalam pembagunan berkelanjutan timbul sebagai akibat dari tumbuhnya kesadaran akan pentingnya intervensi publik atau colective action terhadap kegagalan mekanisme pasar (market failure) dalam menciptakan pola dan struktur ruang yang sesuai dengan tujuan bersama. Dengan kata lain, perencanaan spasial adalah merupakan bentuk intervensi positif atas kehidupan sosial dan lingkungan guna meningkatkan kesejahteraan yang berkelanjutan. Secara lebih spesifik, perencanaan spasial dilakukan sebagai: (1) Optimasi pemanfaatan sumberdaya (mobilisasi dan alokasi pemanfaatan sumberdaya) guna terpenuhinya efisiensi dan produktifitas, (2) Alat dan wujud distribusi sumberdaya guna terpenuhinya prinsip pemerataan, keberimbangan dan keadilan, dan (3) Menjaga keberlanjutan (sustainability) pembangunan. Diluar tiga tujuan diatas, beberapa pihak lainnya menambahkan dua tujuan lainnya dari perencanaan spasial, yakni sebagai upaya: (4) menciptakan rasa aman dan (5) kenyamanan ruang.

Dalam proses perencanaan spasial dalam pembanguanan berkelanjutan, terdapat landasan-landasan penting yang harus diperhatikan sebagai falsafah, yakni: (1) Sebagai bagian dari upaya memenuhi kebutuhan masyarakat untuk melakukan perubahan atau upaya untuk mencegah terjadinya perubahan yang tidak diinginkan, (2) Menciptakan keseimbangan pemanfaatan sumberdaya di masa sekarang dan masa yang akan datang (pembangunan berkelanjutan), (3) Disesuaikan dengan kapasitas pemerintah dan masyarakat untuk mengimplementasikan perencanaan yang disusun, (4) Upaya melakukan perubahan ke arah yang lebih baik secara terencana, (5) Sebagai suatu sistem yang meliputi kegiatan perencanaan, implementasi dan pengendalian pemanfaatan ruang, (6) Dilakukan jika dikehendaki adanya perubahan struktur dan pola pemanfaatan ruang, artinya tidak dilakukan tanpa sebab atau kehendak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar